Search

Re-Check and Re-Launch: Marketing Strategy Post Covid 19 Part 1

Updated: Mar 9, 2021


Rem mendadak! Itulah yang dilakukan oleh mayoritas brand dan bisnis pada umumnya di Indonesia terhadap marketing budget semenjak pandemi Covid 19 dimulai sekitar bulan Maret 2020. Mereka mengurangi atau sampai membatalkan seluruh aktifitas marketing. Stop belanja iklan, pembatalan kampanye marketing sampai penundaan peluncuran produk dilakukan secara terpaksa demi bertahan hidup.

Data dari Nielsen, belanja iklan di Indonesia bulan April 2020 secara keseluruhan menurun 25% dibanding bulan sebelumnya. Bahkan beberapa industry seperti travel dan transporatasi memotong budget iklan sampai 100%. Dikutip dari CBNC, di dalam conference call dengan para analis dan investor, CEO of Google , Sundar Pichai mengatakan pengguna Google search dan YouTube meningkat secara signifikan didorong oleh pencarian informasi mengenai virus Corona. Tetapi belanja iklan menurun secara drastis dan tiba tiba mulai dari bulan Maret 2020. Dampaknya Google sampai menunda peluncuran berbagai produk dan teknologi baru ke pasar.

Namun dalam periode budget marketing "tiarap"seperti ini mari kita melihat dari sudut pandang half glass full, atau dari sisi optimis. Perusahaan harus mempersiapkan diri untuk bangkit dan menyambut era post pandemi dan menang di pasar dengan melakukan berbagai penyesuaian, kalibrasi dan inovasi. Kalau bisnis kita ibaratkan pertandingan mobil balap formula 1, pandemi ini membuat kita terpaksa mengambil waktu untuk PIT STOP. Di dalam Pit Stop, mobil balap harus mengambil waktu berhenti sejenak dari putaran balapan yang begitu ketat dan menegangkan untuk menepi masuk ke area pit stop. Di dalam area khusus ini, satu kru terlatih segera melakukan checking, kalibrasi dan re launching. kru akan mengganti ban untuk menyesuaikan dengan perubahan cuaca, mengisi ulang bahan bakar, mengganti komponen yang rusak, dan melakukan kalibrasi ulang keseluruhan instrumen mobil untuk menyesuaikan dengan putaran balap berikutnya. Sehingga dalam waktu bebera detik, mobil pun bisa di luncurkan kembali berpacu di arena balap dengan optimal untuk menang.

Kalau bisnis kita ibarat pertandingan mobil balap formula satu, pandemi ini membuat kita terpaksa mengambil waktu untuk PIT STOP

Berdasarkan analogi diatas, marketer perlu melakukan analisa dan pemeriksaan (Recheck) seluruh aspek strategi marketing yang berubah mengikuti the new normal. Mulai dari 4 P, (Product, Pricing, Place, Position), prilaku konsumen, teknologi sampai media mix. Setelah itu segera lakukan kalibrasi dan penyesuaian yang diperlukan sebelum meluncurkan kembali (Relaunch) produk dan layanan ke pasar.

RECHECK Ada lima Checkpoint yang anda perlukan untuk mempersiapkan strategi marketing di post pandemi: Hygiene Value Proposition, Pricing, Product, Customer, Channel.

  1. Hygiene Value Proposition Check. Setelah pandemi, faktor hygiene and health compliance menjadi sangat penting. Hal ini diperlukan untuk membangun kepercayaan dan rasa aman dalam mengkonsumsi produk dan jasa anda. Recheck bagaimana implementasi hygiene and health compliance dalam end to end customer experience. Mulai dari produk, proses produksi, cara transaksi, suasana toko, kebersihan staff dan pelayanan, sampai ke cara pengiriman dan pembayaran anda.

  2. Pricing Check. Dengan asumsi terjadi pergeseran daya beli dan prioritas pembelian, sangat penting untuk melakukan analisa ulang strategi pricing yang diterapkan. Recheckapakah terjadi pergeseran dalam sensitifitas harga konsumen? inovasi apa yang dibutuhkan dalam penyediaan cara membayar, satuan pembayaran (ketengan atau bulk) atau adopsi teknologi pembayaran?

  3. Product Check. Sangat penting untuk back to basic dan fokus untuk menguatkan kembali Unique Selling Proposition (USP). Sederhanakan produk dengan kurangi gimmick dan atribute yang sifatnya nice to have namun tambahkan dengan atribut the new normal seperti aspek hygene atau social cause. Recheck USP anda apakah masih sejalan dengan semua keadaan konsumen di masa post pandemi dan apa saja penyesuaian yang perlu dilakukan untuk tetap relevan dan kontekstual.

  4. Customer Check. Analisa dan periksa keadaan konsumen utama anda. dengan mengingat hukum Pareto (hukum 80:20 dimana 80% bisnis anda berasal dari 20% customer anda), periksa dan berdialog dengan 20% pareto customer anda untuk menentukan apa yang mereka butuhan dan harapkan dari anda. Recheck perubahan prilaku, prioritas pembelian, cara membeli, cara berinteraksi, penggunaan platform online sampai bagaimana engagement behaviour di social media.

  5. Channel Preference Check. Bisa dipastikan akan terjadi lonjakan dari penetrasi dan utilisasi online purchase, lewat e-commerce, peer to peer purchase dan apps based. Recheck channel online apa yang meningkat, berapa porsi konsumen anda bertransaksi online, aplikasi apa yang digunakan? Bagaimana proses pembayaran, customer service dan logistiknya?

Setelah anda melakukan rechecking, desain perubahan yang dibutuhkan dan segera Relaunch produk anda!

RELAUNCH Relaunch bisnis anda dengan 7 Key Success Factor di normal baru: Hygiene Compliance, Contact Less Fulfilment, Downsizing, Contextual Bundling, Payment Buffet, Online First, Social Media As Customer Engagement Platform 7 Key Success Factor di normal baru: Hygiene Compliance, Contact Less, Downsizing, Contextual Bundling, Payment Buffet, Online First, Social Media As Customer Engagement Platform

  1. Hygene Compliance. Luncurkan kembali produk dan jasa anda membawa dua aspek, Safe Experience dan Safe Perception. Implementasi Safe Experience bisa dengan berbagai cara antara lain pembayaran dengan e payment, menyediakan hand sanitizer di meja kasir, pilihan delivery ke rumah, metode click and collect, menata jarak dalam antrian sampai mendesain ulang toko atau gerai dengan faktor hygien yang dibutuhkan. Untuk hal Safe Perception, Expose bagaimana perusahaan anda melakukan safety and health compliance di dalam end to end proses bisnis atau supply chain. Komunikasikan proses produksi, proses pengolahan, cara handling barang di gudang sampai bagaiaman perusahaan mengatur standard kebersihan staff.

  2. Contact - Less. Luncurkan semua layanan yang mengurangi kontak fisik antara konsumen dan staff pelayanan anda. aplikasikan prinsip online/ mobile first sebagai cara utama dibandingkan dengan channel fulfilment lainya. Contoh implementasi dari Contact-Less antara lain: Take away/ sell pick up / delivery service untuk bisnis restaurant, virtual tour untuk bisnis property, perhotelan dan parisiwata, webinar untuk bisnis training, live streaming concert untuk bisnis entertainment, e catalog lewat social media untuk bisnis fashion, Go send service untuk bisnis percetakan.

  3. Downsizing. Dalam berbagai analisa diperkirakan daya beli akan menurun dan konsumen akan lebih sensitif terhadap harga. Maka donwsizing dan bundling bisa memudahakan konsumen mengambil keputusan untuk membeli produk anda.Downsizing dapat diaplikasikan dengan cara antara lain: menjual secara "ketengan", meluncurkan packaging yang lebih kecil ( sachet / per buah / per unit), ciptakan produk versi "light" dengan mengurangi beberapa spesifikasi, membuat layanan konten berlangganan per minggu.

  4. Contextual Bundling. Menawarkan PAHE (Paket Hemat) sudah sering kita lihat, namun di masa ini bisa kita kaitkan dengan hal hal yang relevan dan kontekstual dengan suasana post pandemi. Kaitkan bundling produk anda denga produk kesehatan, kebersihan, aktifitas sosial atau kegiatan amal. Contoh implementasinya antara lain beli makanan mendapat minuman kesehatan gratis, beli handphone mendapat bonus air purifier, beli baju mendapat dapat masker yang matching, pesan delivery makanan sambil traktir driver Ojol, belanja online bisa ikut donasi amal.

  5. Payment Buffet. Buka sebanyak mungkin pilihan model pembayaran, jenis alat pembayaran dan payment terms untuk konsumen anda. Model pembayaran yang bisa ditawarkan antara lain prepaid - postpaid, pay per use, subscription model. Jenis alat pembayaran melingkupi e-money, debit/credit card, giftcard, pay by loyalty points. Terakhir untuk payment terms, buka opsi cicilan, perpanjang payment terms atau perkenalkan sistem barter value.

  6. Online-First Sales Channel. Peran penjualan online yang sebelumnya mungkin hanya gimik, pelengkap, atau untuk gengsi perusahaan sekarang menjadi cara utama dalam konsumen bertransaksi, melakukan pembayaran dan fullfillment. Hal ini mengharuskan anda mendesian seluruh proses transaksi, pembayaran dan pemenuhan dengan mindset digital first / mobile first. Tukar fungsi antara online store dan physical store. online store untuk penjualan utama, physical store lebih untuk experience and customised needs. Jadi dibalik, dulu sebelum Covid banyak bisnis yang memposisikan online hanya sebagai alternatif , sekarang waktunya untuk dirubah menjadi sales channel utama.

  7. Social Media As Customer Engagement Platform. Apa fungsi social media anda saat ini? Kalau sebelum Covid mungkin hanya menjadi etalase dan pemanis, maka post pandemi harus mengambil peran sebagai tools utama untuk berdialog dengan konsumen. ciptakan inovasi pelayanan pelanggan antara lain implementasi chatbot, feedback form di instagram, voting di IG story, buka channel youtube untuk brand, create content unboxing / product review bersama selebgram / influencer.

Tukar fungsi antara online store dan physical store. online store untuk penjualan utama, physical store lebih untuk experience and customised needs. Salah satu contoh re-launch yang dilakukan oleh Grab Indonesia, mengimplementasikan Hygiene compliance, contactless and e-payment. Mereka melakukan ini untuk menarik seluruh konsumen Grab kembali menggunakan jasanya dengan rasa percaya dan dengan tenang. TAKEAWAY Mulai Re check sekarang untuk Relaunch segera. Rebut kesempatan untuk luncurkan bisnis model baru, inovasi yang kontekstual, perkuat online presence, buka pilihan pembayaran, sesuaikan end to end customer experience. Saya yakin jika anda adalah orang orang Half Glass Full, maka anda akan setuju dengan saya bahwa setelah selesai pandemi ini kita akan muncul lebih kuat, lebih adaptif dan inovatif dari sebelumnya dan itu semua akan menjadi booster untuk pertumbuhan bisnis anda. Jangan lupa back to basic ke produk utama, fokus pada pareto customer, sediakan fleksibel pricing dan jadikan digital channel sebagai channel utama anda. Mari kita menang dalam the new normal!

References: https://www.google.co.id/amp/s/www.cnbc.com/amp/2020/04/28/alphabet-googl-earnings-q1-2020.html https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/18/companies-turn-to-digital-marketing-to-weather-pandemic.html

Report this


16 views0 comments

Recent Posts

See All